9 Penyair Hidupkan Puisi Lampung

BANDAR LAMPUNG — Sebanyak sembilan penyair asal Lampung-Jakarta memeriahkan pementasan pembacaan puisi di Lamban Sastra Isbedy Stiawan, Sabtu (3/12/2016) malam. Selain itu, acara juga dilanjutkan pula dengan digelarnya diskusi dengan tema “Hidupnya perpuisian Indonesia” agar pemuda Lampung untuk dapat terus menghidupkan puisi di bumi Ruwai Jurai. Perhelatan dengan tema “9 Penyair Mengenang 87” itu dimeriahkan penyair senior Lampung yang tampil adalah Isbedy Stiawan, Syaiful Irba Tanpaka, Naim Emel Prahana, Djuhardi Basri, dan Iwan Nurdaya Djafar. Sedangkan empat pujangga Jakarta adalah Nanang Ribut Supriyatin, Remmy Novaris, Ayid Suyitno PS, dan Arief Joko Wicaksono. Isbedy Stiawan menjelaskan kegiatan tersebut dalam rangka untuk mengenang tahun 1987 sebagai masa penting dalam perpuisian Indonesia dengan gencarnya penghidupan dan pertumbuhan puisi hingga saat ini. Hal tersebut dimulai melalui acara yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta dengan nama Forum Puisi 87 dan diikuti 87 penyair se-Indonesia. “Kami ini adalah alumni dari Forum 87 dan sekarang kami ingin mengingat masa 1987 itu untuk mengajarkan kepada pemuda jika berkesenian harus dengan sungguh-sungguh dan dalam berseniman itu tidak ada kata pensiun, bukan saling berselisih antar seniman, sehingga membentuk kelompok-kelompok,” ujarnya di kediamannya di Jalan Imam Bonjol, Kemiling, Bandar Lampung. Dalam kegiatan tersebut, Isbedy membacakan puisinya berjudul Jangan Jadikan Aku Batu di Kota Ini dan Jika Sakit yang memberi pesan agar tidak main-main dengan sakit dan jangan jadikan sakit sebagai alasan dan penghalang dalam berkegiatan. “Dalam kegiatan ini juga saya berharap agar kegiatan ini dapat terus digelar seperti tema penyair antar kota lainnya,” kata Isbedy. Dalam perhelatan itu juga, penyair Lampung yang mendalami genre islami, Syaiful Irba Tanpaka membacakan puisi yang ditulisnya saat tengah menjalani ibadah umrah, seperti Kakbah, Jabal Rahma, Dalam Gemerlap Cahaya, dan Ihram yang membicarakan selembar kain putih yang akan dibawa ke liang lahat. Sementara itu, penyair Jakarta Ayid Suyitno TS mementaskan puisi terbarunya berjudul Engkah Kah yang isinya terdiri dari dua bait. “Di acara ini, untuk saya lebih mementingkan ke silaturahmi dan diskusinya untuk terus menghidupkan puisi dan terus memiliki kader penyair berbakat,” ungkapnya. Tweet Penulis : Effran Kurniawan Editor : Isnovan Djamaludin dibaca : 493696 Kali

Sumber: Lampost.co

Post Terkait