September, Pertumbuhan Kredit Diprediksi Meningkat

Jakarta – Otoritas Jasa Kuangan (OJK) optimistis pertumbuhan kredit membaik pada September 2016 (kuartal III), meski pada Agustus 2016 melambat di level 6,8%. Optimisme ini seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan menurunnya suku bunga kredit. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon menjelaskan, terlepas dari faktor pertumbuhan ekonomi dan suku bunga kredit, umumnya pertumbuhan kredit akan meningkat pada September 2016. “Pada September kelihatannya akan lebih tinggi dari posisi Agustus 2016, secara statistik periode September hingga Desember umumnya pertumbuhan kredit akan meningkat,” kata Nelson kepada Investor Daily , Senin (26/9). Faktor penurunan suku bunga kredit, menurut dia, memang bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit. Apalagi, pemerintah dan regulator juga mengarahkan suku bunga kredit ke arah single digit . “Kalau untuk kredit mikro, jelas belum bisa,” ujar dia. Menanggapi pergerakan suku bunga ini, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, transmisi kebijakan moneter BI berupa penetapan suku bunga 7-day Reverse Repo Rate diharapkan bisa mempercepat transmisi ke suku bunga kredit. Pada suku bunga acuan sebelumnya, yakni BI rate , transmisi ke suku bunga kredit berjalan lambat. “Pada September 2016, kami perkirakan suku bunga kredit akan terus turun,” kata dia. Sementara itu, Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Yoga Affandi menjelaskan, hingga Agustus 2016, BI sudah menurunkan BI rate hingga 100 basis poin (bps) dan giro wajib minimum (GMW) sebesar 150 bps. Namun, transmisi ke suku bunga kredit berjalan lambat, yakni hanya turun 52 bps ke angka 12,31%. Hal ini berbeda dengan transmisi ke suku bunga simpanan, yakni turun 100 bps ke angka 6,94%. Dengan masih tingginya suku bunga kredit tersebut, pertumbuhan kredit pun ikut melemah. Pada Agustus 2016, pertumbuhan kredit masih berada di level 6,8% year on year (yoy), melambat dibandingkan Juli 2016 yang mencapai 7,4% (yoy). Namun demikian, penurunan suku bunga kredit ini bukan satu-satunya faktor yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit. Menurut Yoga, pertumbuhan ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan bisa juga mempengaruhi pertumbuhan kredit. “Ada tiga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kredit, suku bunga perbankan, pertumbuhan ekonomi dan ekspektasi ke depan, kalau ini jalan berjalan baik maka pertumbuhan kredit bisa meningkat,” jelas dia. Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Bank OCBC NISP Tbk Parwarti Surjaudaja mengungkapkan, pertumbuhan kredit pada September 2016 tidak berbeda jauh dibandingkan Agustus 2016. “Kalau secara year to date (ytd) dibandingkan Desember tahun lalu, pertumbuhan kredit pada September 2016 tidak berbeda jauh dengan Agustus 2016 di kisaran 1%,” kata dia. Pada kuartal IV-2016, dia berharap perputaran kredit bisa lebih cepat. Namun demikian, secara keseluruhan pada 2016, dia memprediksi pertumbuhan kredit masih di bawah 10%. Pasalnya, harga minyak dunia dan komoditas belum membaik, ditambah pula dengan turbulensi yang terjadi pada ekonomi Tiongkok. “Tahun depan kami lebih optimistis, pertumbuhan kredit bisa di kisaran 10-15%,” kata dia. Parwati juga berpendapat, penurunan suku bunga kredit bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit. Pihaknya pun sedang berupaya untuk menurunkan suku bunga kredit ke arah single digit . Parwati menyebutkan, seiring penurunan BI 7-day Repo Rate sebesar 25 bps, pihaknya pun mentransmisikan ke suku bunga kredit korporasi yang menurun 25 bps ke angka 10,25%. “Harapan kami suku bunga acuan bisa turun, sehingga suku bunga kredit juga bisa turun dan dunia usaha bisa berkembang,” kata dia. Sebelumnya, Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan, adanya perolehan dana amnesti pajak diharapkan bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit karena likuiditas perbankan bertambah. Meski demikian, dana yang ada tersebut agak sulit disalurkan ke kredit di tengah penurunan permintaan kredit. “Pertumbuhan kredit pada Juli 2016 sempat turun karena pengaruh periode setelah Lebaran, Agustus diharapkan naik lagi, tapi tidak bisa seoptimis tahun lalu, jadi sampai akhir tahun paling bisa bertumbuh 8-10%, agak sulit di atas 10%,” kata dia. Pertumbuhan Ekonomi Sementara itu, terkait pertumbuhan ekonomi, Yoga mengatakan, tahun ini BI memprediksi di level 4,9-5,3%, sedangkan inflasi akan bergerak ke level 4% plus minus 1%. “Inflasi diperkirakan akan berada pada batas bawah kisaran sasaran inflasi 2016 yang 4 plus minus 1%,” ungkap dia. Menurut dia, pada kuartal III-2016, pertumbuhan ekonomi akan terjaga dengan baik, meskipun tidak sekuat perkiraaan sebelumnya. Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di kuartal III, terindikasi dengan stabilnya penjualan eceran dan membaiknya penjualan kendaraan bermotor. Di sisi lain, perbaikan investasi nonbangunan belum signifikan. Pasalnya, impor alat transportasi dan mesin masih terkontraksi. Gita Rossiana/THM Investor Daily

Sumber: BeritaSatu